Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Juli 2013
Overview About Patience and Ikhlas
This is a conversation I've ever done with my beloved best friend ......
Story ..... about patience and sincerity.
Patient attitudes and Ikhlas it is the attitude that accompanies the process of an act from the beginning and when the experience, not the end of the problems / disasters and at that time we could not face it, then we say patience and sincerity in facing this tragedy.
Have we ever had at the time had a very heavy calamity, then we immediately say thank God?
At the time I did something with the death of my child when it was born, I was at the time immediately say thank God.
Midwives and nurses who handle deliveries wondered why I would like to thank God.
I explain, when the child was still alive ....... then Allah so know that I will not be able to take care of him, then Allah determines the best path for me to take it back immediately. And so I had no savings charity had conceived the child.
Not that I was not sad ....... but Allah has made me aware of his right to take the child and assured me that it was only entrusted his son alone. And especially he does not impose on anyone except to his ability, Subhanalloh.
One time, my fever is very high. I plan to take him to the doctor. Husband suddenly came out of the mosque, and asked how much money we had at the time. I say only twelve thousand dollars and I will wear it for the treatment of children. My husband said what if the money was loaned to her first return home because his wife will give birth.
I was angry ..... why do other people think of my husband more than her own son? but I do not want to argue, I threw the money kehadapannya grumbling, please take the money. He took the money of ten thousand, two thousand dollars to the cost of disisakannya my treatment.
With a heavy heart, I take my medication with money 2RB dollars to the cost, while for the medication to wear my health fund card, with the card and thank God I do not have to pay a dime to doctors and medicine.
In the afternoon ...... suddenly there came to my house guest, the guest asked my husband and gave a deposit envelope from someone ....................... .
After the guests left, I quickly opened the envelope, turned out to contain a hundred thousand, subhanalloh ..... I am grateful for giving his direct cry, and feel ashamed ....... because I have 10 rb sputter give money to help people , while He was soon back as much as 10-fold, Allohu Akbar!!
Of the two events, I was made aware of the sense of patience and sincerity, which turned out ..... patient is receiving disaster according to our levels, meaning that Allah gives it to us every calamity as He has ordained according to our ability. If we say that patience has limits ...... yes its limits set by Allah according to our ability.
Only we are often not aware of their own ability to always feel that we are unable to deal with a problem or unfortunate set of Allah to us.
Then when we are able to provide what we need for other people, that's where our sincerity, because if we do not then we are not going to willingly put out what we have even if it is excessive.
Given at the time so we do not need excessive and may be less meaningful than when we needed but still we give also. At the moment we feel it might not be sincere, but it's where the meaning of sincerity. As taught by the Prophet SAW, "give me the goods so we love to people in need". Ikhlas is a belief that behind every need we have rights of others. Natural Wallahu bishowab
Many say, that sincerity is soon forget any good deeds which we have done, probably yes ...... that we do not gain or calculate profit and loss.
But it would be different if we realize that in every rijki which Allah has given to us, then Allah opened the field for us to do good deeds for others.
We are given a healthy rijki then we have the ability to perform various activities pious charity.
We are given rijki food then there are others who deserve that we give to the food, our children, husbands, .... etc..
If we become aware that we exist in every rijki rights of others, we mempertahannkannya it appropriate for self-indulgence? The name hunks, then lawanya sincere is griping.
The size of what we provide are not a measure of sincerity, but beneficial for others it is a measure of sincerity (hehehe only Allah has the right judge).
When we leave the house in good health, and then we spread a smile to everyone around us, everyone will feel happy to have been greeted by the warmth of our smile. Sincere smile more beneficial for other people than administration that is accompanied by insults, naudzubillahi mindzalik.
This chat is not intended to open the story itself, but instead of that incident I became aware of how patient and sincere open something hard to do, but we can interpret it any time in any event we have experienced,
Yuk,,,,,, I hope we do not include people who are always desperate for His mercy and grace of Allah, keep the spirit of pious charity to improve the state of blessing and in ridhoi.
Jumat, 10 Februari 2012
APA SAAT YANG PALING DEKAT DENGAN KITA ?
Beberapa hari terakhir ini saya dikejutkan dengan beberapa berita mengagetkan dan menyedihkan.
Ketika saya hendak pergi ke sekolah, tiba-tiba keponakan saya bilang bahwa guru-guru sedang pergi ke rumah Bu Sar karena suaminya meninggal. Betapa kagetnya saya karena kemarin tidak ada berita bahwa suaminya sedang sakit. Ternyata penyebab meninggalnya suami Bu Sar karena serangan darah tinggi.
Dalam saat yang bersamaan, saya dapat sms dari suami bahwa salah seorang tetangga saya jatuh di kamar mandi karena serangan darah tinggi dan sekarang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis, Masya Alloh.
Besoknya, saya dapat berita bahwa salah seorang teman saya meninggal karena serangan jantung ketika sedang makan dengan istrinya, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Dari beberapa peristiwa yang beruntun itu ternyata kita dapat mengambil ibrah bahwa jika Sang Khliq menghendaki maka saat dipanggil kepada Nya kita tidak bisa menolak, harus selalu ready. Kembali kepada Sang Khaliq adalah saat yang paling dekat dengan kita setiap waktu. Lalu bagaimana persiapan kita menghadapinya?
Sesungguhnya manusia sudah terkepung oleh ajalnya, tetapi mereka mengejar angan-angan yang tidak sudah. Betapa kita ditertawakan oleh takdir, ke mana saja kita pergi dan apa saja keinginan, semuanya kembali kepada qada dan qadar-Nya.
Jadi mengapa manusia melupakan kematian? Bukankah akan sampai saat matanya ditutup dan tidak boleh dibuka kembali, nafas dihirup tidak dapat dihembus lagi, saat kaki kanan melangkah dan belum pasti yang kiri akan sampai, saat menyuap rezeki yang belum tentu dapat ditelannya?
Betapa berharganya masa diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin seminggu atau sehari lagi ajal akan datang, segala kemungkinan boleh berlaku di mana saja. Di atas jalan raya atau di pasar, di masjid atau dalam kamar, di bumi mana dia dijemput, tiada siapa yang tahu.
Jika ditanya bilakah kamu mahu membuat persediaan menghadap Allah, maka mereka menjawab: “Tunggulah hari tua nanti, sekarang aku mahu kumpulkan harta sebanyak-banyaknya supaya senang beribadah di kala tua.”
Selepas datangnya tanda mati, gugurnya gigi, tumbuhnya uban dan datang pula penyakit yang melemahkan tubuh badannya, maka orang tua ini pun berdolak-dalih: “Aku sakit, tak boleh sembahyang, tak wajib puasa, zakat dan sedekah pula tak payahlah keluarkan sebab anak aku perlukan rumah dan banyak hutang pula, lebih baik hulurkan kepada mereka hartaku ini, orang tua yang kedekut akan menerima padah nanti, bagaimana jika anak aku tidak mahu memelihara aku? Ada duit anak pun datang tak ada duit tinggallah aku keseorangan.”
Lalu dia menganggap baik kelalaian atas sebab uzur, maka dihembuslah ke dalam hatinya tipu daya syaitan yang menyuruh untuk bersangka baik kepada Allah secara yang silap, bukankah Allah maha penyayang?
Dia tidak akan menyeksa hambanya yang uzur. Atas sebab dan alasan kelemahan jasadnya dia tinggalkan amal, ketepikan ilmu dan tutup pintu hatinya untuk beribadah. Tetapi agenda memuaskan hawa nafsunya tetap berjalan, makan tidak mahu berpantang, jika berhibur mengalahkan orang muda.
Siang sampai ke malam dihabiskan di hadapan televisyen. Al-Quran dilupa, sembahyang pula tidak ingat. Datang pula penyakit hati yang biasa menyerang orang tua seperti, sedih, risau, cepat terasa hati dan menyangka buruk kepada sesiapa dikenali seperti anak atau menantu dan cucu-cicit. Begitulah belitan syaitan menguasai insan yang malang.
Allah berfirman mengenai keadaan manusia sebegini yang bermaksud: “Dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu sudah ditipu terhadap Allah oleh syaitan yang amat penipu.” (Surah al-Hadid, ayat 14)
Kelalaian adalah penyakit yang dideritai setiap insan. Ia lebih merbahaya daripada segala penyakit di dunia ini kerana setiap penyakit ada ubatnya dan hanya memberi impak pendek serta sementara. Tetapi kelalaian akan menghasilkan penyesalan selama-lamanya pada akhirat kelak.
Bagi orang muda, biasanya kesihatan dan kenikmatan duniawi menjadi faktor membuat mereka tertipu. Semasa sihat, banyak masa kosong dan harta masih berlonggok, amat malas beribadat kerana saat itu manusia berada dalam zon selesa. Jika ujian dan musibah datang barulah hati tergerak ingat kepada dosa dan berubah taat merapati Allah.
Jika cepat sedar, alangkah bersyukurnya orang memiliki jiwa seperti ini, dia sentiasa berwaspada daripada tipu daya syaitan. Tetapi jika terlalu asyik dengan nikmat dunia hingga lupa segala-galanya, musibah sekeras apapun tak akan menggoyahkan hatinya untuk tunduk kepada Allah.
Untuk mendidik jiwa supaya sentiasa merasai pendeknya usia tentu amatlah susah melainkan dengan latihan yang terancang dengan baik. Latihan mengingati mati boleh dilakukan dengan pembacaan dan kajian yang lebih mendalam mengenainya.
Ilmu penting untuk membentuk suatu penghayatan yang sempurna. Ayat al-Quran dan hadis membincangkan hari akhirat, hidup sesudah mati dan pembalasan syurga serta seksa neraka boleh melembutkan hati manusia dan menjaganya dalam lingkungan celik iman.
Rasulullah SAW juga menyuruh umatnya untuk mengamalkan ziarah kubur. Tidaklah pelik jika kita membawa ahli keluarga bersama singgah ke tanah perkuburan bagi mengingati mati, bahkan yang pelik adalah membawa anak ke tempat melalaikan.
Di perkuburan kita disyariatkan untuk mengucapkan salam dan berdoa untuk saudara kita dengan harapan supaya keinsafan sebati dalam jiwa yang selalu lalai dan sedar atas segala kejahatan diri kerana apabila berada dalam kubur, tiada siapa boleh membantu.
Senang sungguh jika membayangkan mahu membina rumah dengan kos yang tinggi, sudah tentulah ia harus dibayar dengan jerih payah yang menyeksa jiwa, tetapi susah sangat hendak membuat persediaan membina rumah idaman di dalam kubur yang lebih indah.
Manusia boleh berbangga dengan istana yang bermandikan cahaya kristal gemerlapan, tetapi yang hanya boleh menerangi kuburnya hanyalah al-Quran dan amal salih yang dicintai ketika di dunia ini.
Kematian
Kematian adalah misteri yang tidak akan terpecah dengan fahaman rasional semata. Manusia perlukan iman untuk melalui perjalanan menuju kematian dengan reda dan bersedia.
Sesungguhnya manusia sudah terkepung oleh ajalnya, tetapi mereka mengejar angan-angan yang tidak sudah. Betapa kita ditertawakan takdir, ke mana saja kita pergi dan apa saja keinginan, semuanya kembali kepada qada dan qadar-Nya.
Betapa berharganya masa diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin seminggu atau sehari lagi ajal akan datang, segala kemungkinan boleh berlaku di mana saja. Di atas jalan raya atau di pasar, di masjid atau dalam kamar, di bumi mana dia dijemput, tiada siapa yang tahu.
Siang sampai ke malam dihabiskan di hadapan televisyen. Al-Quran dilupa, sembahyang pula tidak ingat. Datang pula penyakit hati yang biasa menyerang orang tua seperti, sedih, risau, cepat terasa hati dan menyangka buruk kepada sesiapa dikenali seperti anak atau menantu dan cucu-cicit. Begitulah belitan syaitan menguasai insan yang malang.
Bagi orang muda, biasanya kesihatan dan kenikmatan duniawi menjadi faktor membuat mereka tertipu.
Untuk mendidik jiwa supaya sentiasa merasai pendeknya usia tentu amatlah susah melainkan dengan latihan yang terancang dengan baik. Latihan mengingati mati boleh dilakukan dengan pembacaan dan kajian yang lebih mendalam mengenainya.
Ayat al-Quran dan hadis membincangkan hari akhirat, hidup sesudah mati dan pembalasan syurga serta seksa neraka boleh melembutkan hati manusia dan menjaganya dalam lingkungan celik iman
Ketika saya hendak pergi ke sekolah, tiba-tiba keponakan saya bilang bahwa guru-guru sedang pergi ke rumah Bu Sar karena suaminya meninggal. Betapa kagetnya saya karena kemarin tidak ada berita bahwa suaminya sedang sakit. Ternyata penyebab meninggalnya suami Bu Sar karena serangan darah tinggi.
Dalam saat yang bersamaan, saya dapat sms dari suami bahwa salah seorang tetangga saya jatuh di kamar mandi karena serangan darah tinggi dan sekarang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis, Masya Alloh.
Besoknya, saya dapat berita bahwa salah seorang teman saya meninggal karena serangan jantung ketika sedang makan dengan istrinya, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Dari beberapa peristiwa yang beruntun itu ternyata kita dapat mengambil ibrah bahwa jika Sang Khliq menghendaki maka saat dipanggil kepada Nya kita tidak bisa menolak, harus selalu ready. Kembali kepada Sang Khaliq adalah saat yang paling dekat dengan kita setiap waktu. Lalu bagaimana persiapan kita menghadapinya?
Sesungguhnya manusia sudah terkepung oleh ajalnya, tetapi mereka mengejar angan-angan yang tidak sudah. Betapa kita ditertawakan oleh takdir, ke mana saja kita pergi dan apa saja keinginan, semuanya kembali kepada qada dan qadar-Nya.
Jadi mengapa manusia melupakan kematian? Bukankah akan sampai saat matanya ditutup dan tidak boleh dibuka kembali, nafas dihirup tidak dapat dihembus lagi, saat kaki kanan melangkah dan belum pasti yang kiri akan sampai, saat menyuap rezeki yang belum tentu dapat ditelannya?
Betapa berharganya masa diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin seminggu atau sehari lagi ajal akan datang, segala kemungkinan boleh berlaku di mana saja. Di atas jalan raya atau di pasar, di masjid atau dalam kamar, di bumi mana dia dijemput, tiada siapa yang tahu.
Jika ditanya bilakah kamu mahu membuat persediaan menghadap Allah, maka mereka menjawab: “Tunggulah hari tua nanti, sekarang aku mahu kumpulkan harta sebanyak-banyaknya supaya senang beribadah di kala tua.”
Selepas datangnya tanda mati, gugurnya gigi, tumbuhnya uban dan datang pula penyakit yang melemahkan tubuh badannya, maka orang tua ini pun berdolak-dalih: “Aku sakit, tak boleh sembahyang, tak wajib puasa, zakat dan sedekah pula tak payahlah keluarkan sebab anak aku perlukan rumah dan banyak hutang pula, lebih baik hulurkan kepada mereka hartaku ini, orang tua yang kedekut akan menerima padah nanti, bagaimana jika anak aku tidak mahu memelihara aku? Ada duit anak pun datang tak ada duit tinggallah aku keseorangan.”
Lalu dia menganggap baik kelalaian atas sebab uzur, maka dihembuslah ke dalam hatinya tipu daya syaitan yang menyuruh untuk bersangka baik kepada Allah secara yang silap, bukankah Allah maha penyayang?
Dia tidak akan menyeksa hambanya yang uzur. Atas sebab dan alasan kelemahan jasadnya dia tinggalkan amal, ketepikan ilmu dan tutup pintu hatinya untuk beribadah. Tetapi agenda memuaskan hawa nafsunya tetap berjalan, makan tidak mahu berpantang, jika berhibur mengalahkan orang muda.
Siang sampai ke malam dihabiskan di hadapan televisyen. Al-Quran dilupa, sembahyang pula tidak ingat. Datang pula penyakit hati yang biasa menyerang orang tua seperti, sedih, risau, cepat terasa hati dan menyangka buruk kepada sesiapa dikenali seperti anak atau menantu dan cucu-cicit. Begitulah belitan syaitan menguasai insan yang malang.
Allah berfirman mengenai keadaan manusia sebegini yang bermaksud: “Dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu sudah ditipu terhadap Allah oleh syaitan yang amat penipu.” (Surah al-Hadid, ayat 14)
Kelalaian adalah penyakit yang dideritai setiap insan. Ia lebih merbahaya daripada segala penyakit di dunia ini kerana setiap penyakit ada ubatnya dan hanya memberi impak pendek serta sementara. Tetapi kelalaian akan menghasilkan penyesalan selama-lamanya pada akhirat kelak.
Bagi orang muda, biasanya kesihatan dan kenikmatan duniawi menjadi faktor membuat mereka tertipu. Semasa sihat, banyak masa kosong dan harta masih berlonggok, amat malas beribadat kerana saat itu manusia berada dalam zon selesa. Jika ujian dan musibah datang barulah hati tergerak ingat kepada dosa dan berubah taat merapati Allah.
Jika cepat sedar, alangkah bersyukurnya orang memiliki jiwa seperti ini, dia sentiasa berwaspada daripada tipu daya syaitan. Tetapi jika terlalu asyik dengan nikmat dunia hingga lupa segala-galanya, musibah sekeras apapun tak akan menggoyahkan hatinya untuk tunduk kepada Allah.
Untuk mendidik jiwa supaya sentiasa merasai pendeknya usia tentu amatlah susah melainkan dengan latihan yang terancang dengan baik. Latihan mengingati mati boleh dilakukan dengan pembacaan dan kajian yang lebih mendalam mengenainya.
Ilmu penting untuk membentuk suatu penghayatan yang sempurna. Ayat al-Quran dan hadis membincangkan hari akhirat, hidup sesudah mati dan pembalasan syurga serta seksa neraka boleh melembutkan hati manusia dan menjaganya dalam lingkungan celik iman.
Rasulullah SAW juga menyuruh umatnya untuk mengamalkan ziarah kubur. Tidaklah pelik jika kita membawa ahli keluarga bersama singgah ke tanah perkuburan bagi mengingati mati, bahkan yang pelik adalah membawa anak ke tempat melalaikan.
Di perkuburan kita disyariatkan untuk mengucapkan salam dan berdoa untuk saudara kita dengan harapan supaya keinsafan sebati dalam jiwa yang selalu lalai dan sedar atas segala kejahatan diri kerana apabila berada dalam kubur, tiada siapa boleh membantu.
Senang sungguh jika membayangkan mahu membina rumah dengan kos yang tinggi, sudah tentulah ia harus dibayar dengan jerih payah yang menyeksa jiwa, tetapi susah sangat hendak membuat persediaan membina rumah idaman di dalam kubur yang lebih indah.
Manusia boleh berbangga dengan istana yang bermandikan cahaya kristal gemerlapan, tetapi yang hanya boleh menerangi kuburnya hanyalah al-Quran dan amal salih yang dicintai ketika di dunia ini.
Kematian
Kematian adalah misteri yang tidak akan terpecah dengan fahaman rasional semata. Manusia perlukan iman untuk melalui perjalanan menuju kematian dengan reda dan bersedia.
Sesungguhnya manusia sudah terkepung oleh ajalnya, tetapi mereka mengejar angan-angan yang tidak sudah. Betapa kita ditertawakan takdir, ke mana saja kita pergi dan apa saja keinginan, semuanya kembali kepada qada dan qadar-Nya.
Betapa berharganya masa diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin seminggu atau sehari lagi ajal akan datang, segala kemungkinan boleh berlaku di mana saja. Di atas jalan raya atau di pasar, di masjid atau dalam kamar, di bumi mana dia dijemput, tiada siapa yang tahu.
Siang sampai ke malam dihabiskan di hadapan televisyen. Al-Quran dilupa, sembahyang pula tidak ingat. Datang pula penyakit hati yang biasa menyerang orang tua seperti, sedih, risau, cepat terasa hati dan menyangka buruk kepada sesiapa dikenali seperti anak atau menantu dan cucu-cicit. Begitulah belitan syaitan menguasai insan yang malang.
Bagi orang muda, biasanya kesihatan dan kenikmatan duniawi menjadi faktor membuat mereka tertipu.
Untuk mendidik jiwa supaya sentiasa merasai pendeknya usia tentu amatlah susah melainkan dengan latihan yang terancang dengan baik. Latihan mengingati mati boleh dilakukan dengan pembacaan dan kajian yang lebih mendalam mengenainya.
Ayat al-Quran dan hadis membincangkan hari akhirat, hidup sesudah mati dan pembalasan syurga serta seksa neraka boleh melembutkan hati manusia dan menjaganya dalam lingkungan celik iman
Sabtu, 28 Januari 2012
Kemesraan yang Diimpikan
"Sesungguhnya dibalik kebesaran Aisyah, ada suami yang dengan sabar mendidiknya. Di balik kemesraan-kemesraannya, ada kelembutan suami yang senantiasa memahaminya. Tanpa itu......kemesraan tinggalah impian"
Jika kita bertanya tentang pendamping hidup yang sempurna, seakan-akan kulihat Aisyah rh. Dialah istri Nabi SAW yang banyak menimbulkan takjub pada hati yang merindukan kemesraan. Dia pula istri Nabi yang kecerdasannya membuat para malaikat berdatangan kepadanya untuk belajar. Bila orang membicarakannya, kita selalu teringat akan peristiwa bagaimana ia berkejar-kejaran mesra dengan suaminya, Muhammad SAW. Bila orang mendengar julukannya, Humaira (orang yang pipinya merah) terbayang rumah tangga yang romantis menggemaskan.
Kisah kemesraan Aisyah membangkitkan kerinduan kita kepada rumahtangga yang penuh cinta. Orang yang baru menikah /apalagi yang belum akan segera diliputi impian tentang istri yang manja dan menggemaskan. Bayang-bayang tentang suasana romantis itu sayangnya tidak diimbangi dengan membayangkan kecemburuannya yang sangat besar. Sehingga di saat kita bermimpi tentang perkawinan yang penuh canda, istri kita menelungkupkan wajah karena duka, sementara dada suami penuh gejolak amarah. Sebabnya sederhana, kita siap dengan romantisnya tetapi tidak siap dengan rasa cemburu dan kecurigaannya (meski kadang tidak mendasar).
Terkadang, yang menyebabkan kita merasa kecewa bukanlah karena pasangan kita yang menjengkelkan, melainkan harapan yang tidak berimbang. Suami berharap mendapat istri seperti Aisyah, tetapi tidak siap dengan cemburunya yang begitu besar. Kita berharap mempunyai istri yang sangat cerdas, tetapi suami tidak siap membimbingnya.
Sesungguhnya di balik kebesaran Aisyah, ada suami yang dengan sabar mendidiknya. Di balik kemesraan-kemesraannya ada suami yang lembut dan berusaha memahaminya.
Jika kita bertanya tentang pendamping hidup yang sempurna, seakan-akan kulihat Aisyah rh. Dialah istri Nabi SAW yang banyak menimbulkan takjub pada hati yang merindukan kemesraan. Dia pula istri Nabi yang kecerdasannya membuat para malaikat berdatangan kepadanya untuk belajar. Bila orang membicarakannya, kita selalu teringat akan peristiwa bagaimana ia berkejar-kejaran mesra dengan suaminya, Muhammad SAW. Bila orang mendengar julukannya, Humaira (orang yang pipinya merah) terbayang rumah tangga yang romantis menggemaskan.
Kisah kemesraan Aisyah membangkitkan kerinduan kita kepada rumahtangga yang penuh cinta. Orang yang baru menikah /apalagi yang belum akan segera diliputi impian tentang istri yang manja dan menggemaskan. Bayang-bayang tentang suasana romantis itu sayangnya tidak diimbangi dengan membayangkan kecemburuannya yang sangat besar. Sehingga di saat kita bermimpi tentang perkawinan yang penuh canda, istri kita menelungkupkan wajah karena duka, sementara dada suami penuh gejolak amarah. Sebabnya sederhana, kita siap dengan romantisnya tetapi tidak siap dengan rasa cemburu dan kecurigaannya (meski kadang tidak mendasar).
Terkadang, yang menyebabkan kita merasa kecewa bukanlah karena pasangan kita yang menjengkelkan, melainkan harapan yang tidak berimbang. Suami berharap mendapat istri seperti Aisyah, tetapi tidak siap dengan cemburunya yang begitu besar. Kita berharap mempunyai istri yang sangat cerdas, tetapi suami tidak siap membimbingnya.
Sesungguhnya di balik kebesaran Aisyah, ada suami yang dengan sabar mendidiknya. Di balik kemesraan-kemesraannya ada suami yang lembut dan berusaha memahaminya.
Minggu, 11 Desember 2011
NIKMATNYA BERSEDEKAH

Salah satu sifat dan perilaku terpuji yang mesti dimiliki oleh orang beriman adalah mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita, baik nikmat yang berupa fisik kebendaan (material) maupun nikmat yang bersifat mental spiritual (ruhaniah).
Nikmat iman dan nikmat ukhuwah (persaudaraan atau persahabatan) adalah contoh-contoh kenikmatan ruhaniah. Sedangkan nikmat sehat, nikmat umur dan harta benda yang melimpah adalah beberapa di antara conroh-contoh nikmat material.
Sebagaimana saya bacakan di pembukaan khutbah ini, Allah SWT berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأزِيْدَنَّكُمْ ولَئِنْ كَفَرْتُمْ إنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: Dan ingatlah tatkala Tuhannu memaklumatkan, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim: 7)
Berdasarkan ayat ini, maka marilah kita mensyukuri seluruh nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu.
Sungguh pun pekerjaan bersyukur tampaknya hanyalah perbuatan yang mudah kita lakukan. Namun bersyukur juga memiliki konsekwensi karena bersyukur adalah berbuat. Jika kita mensyukuri umur maka kita mesti menggunakannya untuk beribadah kepada Allah. Dan jika kita mensyukuri harta tentu kita akan menggunakannya untuk bersedekah. Nah di sinilah kita akan mendapatkan ujian tentang rasa syukur.
Ketika kita menggunakan umur kita untuk beribadah kepada Allah, maka syetan dan hawa nafsu akan senantiasa menggoda dan membisikkan, bahwa banyak kemaksiatan yang siap digelar di luar sana. Bila kita ingin mendatangi masjid untuk berdzikir, maka syetan-syetan akan memperberat langkah kita. Mereka ingin membelokkan langkah kita menuju tempat-tempat lain di mana kemaksiatan sedang diumbar.
Sedangkan jika kita ingin bersedekah, tentu syetan dan hawa nafsu juga akan selalu menggoda kita, mereka membisikkan resiko-resiko yang tidak semestinya. Syetan-syetan akan mengatakan, “Ah buat apakah kamu bersedekah? Sedangkan masih banyak kebutuhan pribadimu yang belum terpenuhi.” Jika kita ingin mendermakan beberapa ratus ribu atau beberapa juta, maka hawa nafsu kita akan selalu mempengaruhi, “Jangan banyak-banyak deh, kalau ingin bersedekah, nanti kamu bisa jatuh miskin.”
Padahal tahukah kita, bahwa sedekah takkan mengurangkan harta sedikitpun. Karena Allah pasti akan menggantinya dengan berlipat ganda. Rasulullah SAW pun telah bersabda,
مَا نَقَصَ مَالُ مِنْ صَدَقَةٍ
Harta tidak berkurang karena bersedekah. (HR. Muslim)
Hadits ini merupakan jaminan keamanan dari kefakiran kita oleh Allah SWT. Kita telah mendapatkan jaminan, takkan menjadi miskin karena bersedekah.
Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah menceritakan, "Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali dua Malaikat turun kepadanya, yang salah satunya berkata: Ya Allah, berilah orang yang berinfak gantinya. Dan yang lain berkata: Ya Allah, berilah orang yang kikir kerusakan." (HR. Bukhari-Muslim)
Kedua hadits ini mengindikasikan, Justru dengan bershadaqah, harta seseorang akan semakin bertambah, barakahnya maupun jumlah harta itu sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT,
وَمَا أنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْئٍ فَهُوَ يَخْلِفُهُ
Dan segala yang kamu nafkahkan, tentu akan digantikan oleh Allah SWT. (QS. Al-Hasyr : 39)
Maka dari itu saudara-saudaras ekalian, kita tidaklah perlu khawatir bahwa rasa syukur kita dan sedekah kita akan mendatangkan kesulitan bagi hidup kita. Kita tidak perlu khawatir bahwa syukur dan sedekah akan mengurangi kenikmatan kita. Dan marilah kita mensyukuri segala nikmat Allah dengan segenap daya untuk semakin mengaplikasikan ketakwaan yang sesungguhnya.
Bersyukur atas nikmat adalah bukti bagi lurusnya keimanan dalam jiwa manusia. Dan orang yang bersyukur kepada Allah akan selalu merasakan muroqobatullah (Kebersamaan Allah) dalam mendayagunakan kenikmatan-Nya, dengan tidak disertai pengingkaran, perasaan menang dan unggul atas makhluk lainnya, dan penyalahgunaan nikmat.
Mensyukuri nikmat dengan mengungkapkan rasa kesyukuran kepada Allah dapat kita lakasanakan sengan tiga hal : pertama adalah Mengakui di dalam bathin. Sedangkan yang kedua adalah Mengucapkannya dengan lisan dan yang ketiga adalah Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberi nikmat. Dan ketiga-tiganya ini harus kita laksanakan dengan sepenuhnya, kita tidak dapat bersyukur dengan sebenarnya jika hanya ucapan yang membuktikan itu.
Jika mengaku bersyukur atas kelebihan harta namun tidak pernah bersedekah, tentu syukur yang kita ucapkan adalah kebohongan belaka. Apalah lagi kita selalu menggerutu, namun mengaku penuh syukur. Sungguh hal tersebut hanyalah isapan jempol semata.
Tentu Allah dan Rasulullah takkan memerintahkan kepada kita untuk bersyukur, jika tida manfaatnya. Maka ketahuilah bahwa mensyukuri nikmat memiliki banyak sekali manfaat yang dapat dipetik oleh orang-orang beriman.
Beberapa di antara manfaat syukur adalah mensucikan jiwa. Dengan bersedekah kita mensucikan harta. Sedekah wajib berupa zakat dan sedekah sunnah di setiap saat. Harta dan kekayaan material kita menjadi tersucikan oleh sedekah. Dan kehidupan kita tersucikan oleh rasa syukur yang terkatakan dengan lisan dan terlaksana melalui perbuatan-perbuatan baik.
Syukur jura mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan kenikmatan secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuhkembangkan kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang disyukuri, adalah lebih berarti dibandingkan kenikmatan-kenikmatan yang disia-siakan.
Syukur juga menjadikan orang lain ridho dan senang kepada kita, Syukur menentramkan jiwa kita. Karena rasa syukur yang telah kita ungkapkan dalam perbuatan tentu menjadikan orang lain senang dan akan membantu dan menolong kita di waktu-waktu lainnya.
Tentu saja, rasa syukur dapat memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam sosial masyarakat, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindungi dengan aman.
Apabila mayoritas anggota suatu masyarakat adalah pribadi-pribadi yang bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah mereka dapatkan, tentu masyarakat akan aman tenteram dan beroleh kerahmatan dari Allah SWT. Dan baldatun toyyibatun wa robbun ghofuur tidak lagi menjadi mimpi semata. Amin Allahumma Amin
Sumber: nu.or.id
Sabtu, 03 Desember 2011
Empat nasihat Rasulullah kpd sahabatnya
Empat nasihat dari Rasulullah kepada sahabatnya. Keempat poin tersebut di antaranya:
1. Ketahuilah bahwa perkawinan itu ibadah. Untuk membangun sebuah kehidupan yang baru itu ibarat perjalanan panjang mengarungi samudera yang luas dan mengarungi pulau tujuan. Jadi, persiapkan kapalmu dengan baik karena engkau akan berlayar ke samudera yang tidak hanya berombak terang, tapi juga diterpa gelombang tinggi. Jagalah kemudimu agar lurus arahnya. Jagalah pula putri kami agar tenang hidupnya dan dia selalu merasa dicintai dan dilindungi karena Aliya akan mendampingimu dalam suka dan duka. Berlayar bersama menuju ridho Allah SWT.
2. Ketahuilah bahwa dalam perjalanan itu bawalah bekal, karena perjalanan akan panjang dan perbanyaklah amal shaleh. Dari lubuk ananda yang tersayang, hormatilah dan sayangi kedua orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik ananda karena ridho Allah adalah ridho orangtua. Sayangi pula seluruh keluarga yang telah menyatu dan telah jadi keluarga besar. Papa dan mama akan mengasihi ananda sebagai putra kandung sendiri.
3. Ketahuilah bahwa janganlah kamu membawa bekal berlebihan karena ia akan memberatkanmu. Bawalah secukupnya dan pandaiah berbagi sesama. Jadilah rahmat bagi semesta alam, hidup dalam bermasyarakat, bernegara, hendaknya taat dalam hukum dan etnik yang berlaku. Selalu menyayangi bersama, amanah, ulet, sabar bersyukur, dan ikhlas. Tetaplah tegar dan yakin dalam setiap cobaan agar tugas dan tanggung jawab dalam hidup ini berjalan lancar. Yakinlah ananda dalam tiap kesulitan selalu ada kemudahan.
4. Ketahuilah bahwa hidup akan tentram, hidup akan berguna, hidup akan tenang manakala ananda senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT. Pada Dia-lah kamu bersujud dan pada Dia-lah kamu bersandar. Jalankan perintah agama dan hindari larangannya. Jadilah pemimpin bagi keluargamu. Bangunlah keluarga sakinah, mawadah dan warahman, bersabar dalam setiap cobaan dan jadilah manusia utama yang berguna bagi keluarga, agama dan masyarakat, bangsa dan negara.
Selasa, 22 November 2011
Cooling down dulu
mari kita berhenti sejenak
oleh 'Lusiyana Lulu' pada 22 November 2011 jam 9:32
Mari kita berhenti sejenak di sini! Kita sudah relatif jauh berjalan bersama dalam kereta dakwah. Banyak sudah yang kita lihat dan yang kita raih. Tapi, banyak juga yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat laju kereta,goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa,suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu di gerbong kereta ini,dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret,juga bnyak kursi kosong dalam kereta dakwah ini yang semestinya bisa ditempati oleh penumpang-penumpang baru tapi tidak sempat kita muat. Dan masih banyak lagi!
Jadi,mari kita berhenti sejenak di sini! Kita memerlukan saat-saat itu; saat dimana kita melepas kepenatan yang mengurangi ketajaman hati,saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual,saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul yang mungkin menguras stamina kita. Kita memerlukan saat-saat seperti itu karena kita perlu membuk kembali peta perjalanan dakwah kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang harus kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita yang telah berubah.
Sesungguhnya,bukan hanya kita,para dai,yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun punya kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnyapenghentian. Tapi,sahabat-sahabat Rasulullah SAW.–generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan karenanya berhak meletakkan kaidah-kaidah dakwah—menyebutnya majlis iman. Maka,Ibnu Mas`ud berkata,”Duduklah bersama kami,biar kita beriman sejenak.”
Majlis Iman kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama,untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin kita capai dari upaya ini adalah memperbaharui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah,peluang yang disediakan lingkungan eksternal,dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua,untuk mengisi ulang hati kita dengan energy baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT. bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu;bahwa kita akan tetap setia memikul beban amanat dakwah ini;bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan;bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridhaNya. Hari-hari panjang yang kita lalui bersama dakwah ini menguras seluruh energy jiwa yang kita miliki,maka majlis iman adalah tempat kita berhenti sejenak untuk mengisi hati dengan energi yang tercipta dari kesadaran baru,semangat baru,tekad baru,harapan baru,dan keberanian baru.
Karena itu,majlis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudah semakin jauh. Pertama,karena tahap demi tahap dari keseluruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategi dakwah perlahan-lahan kita lalui. Mulai dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan junud dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayaannya kembali,kemudian melakukan mobilisasi social untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit,sampai akhirnya kita membentuk partai sebagai wadah untuk merepresentasikan dakwah di bidang institusi.
Kedua,karena kita hidup di sebuah masa dengan karakter tidak stabil. Perubahan-perubahan besar di lingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan,apa yang dituntut dari kita,kaum dai,adalah melakukan pengadaptasian,penyelarasan,penyeimbangan,dan–pada waktu yang sama—meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum. Ketiga,karena kita mengalami seleksi dari Allah SWT. secara kontinu sehingga banyak duat yang berguguran,juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.
Semua itu membutuhkan perenungan yang dalam. Maka,dalam majlis imanini,kita mengukuhkan sebuah wacana bagi proses pencerahan pikiran,penguatan kesadaran,penjernihan jiwa,pembaruan niat dan semangat jihad. Dan inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini.
Tradisi penghentian atau majlis iman semacama ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan;individu dan jamaah. Pada tingkatan individu,tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi,menghayati,dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif,matang,dan actual disamping kebiasaan muhasabah,memperbaharui niat,menguatkan kesadaran dan motivasi,serta memelihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam majlis iman untuk kita bagi kepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif,semangat individu menyatu dalam semangat kolektif,dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakekat kekhusyukan yang disebutkan Alquran,maka inilah salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis,penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam. Maka,Allah SWT mengatakan,”Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukkan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang Rasul) telah jauh,maka hati-hati mereka menjadi keras,dan banyak dari mereka yang menjadi fasik.” (QS.Alhadid:16)
Beginilah akhirnya kita memahami mengapa Rasulullah saw.menyunahkan umatnya melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan;atau mengapa Allah SWT menanamkan kegemaran berkhalwat pada diri Rasulullah SAW tiga tahun sebelum diangkat menjadi Rasul;atau bahkan mengapa Umar bin Khattab mempunyai kebiasaan itikaf di Masjidil Haram sekali sepekan di masa jahiliyah. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana yanv melahirkan gagasan-gagasan besar atau tempat merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka ,kata Ali bin Abi Thalib,adalah zikir,dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita sehingga diam kita berubah menjadi imajinasi yang liar; ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka,dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan;pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian,kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan,dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.
Langganan:
Postingan (Atom)