Minggu, 11 Desember 2011

NIKMATNYA BERSEDEKAH





Salah satu sifat dan perilaku terpuji yang mesti dimiliki oleh orang beriman adalah mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita, baik nikmat yang berupa fisik kebendaan (material) maupun nikmat yang bersifat mental spiritual (ruhaniah).

Nikmat iman dan nikmat ukhuwah (persaudaraan atau persahabatan) adalah contoh-contoh kenikmatan ruhaniah. Sedangkan nikmat sehat, nikmat umur dan harta benda yang melimpah adalah beberapa di antara conroh-contoh nikmat material.

Sebagaimana saya bacakan di pembukaan khutbah ini, Allah SWT berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأزِيْدَنَّكُمْ ولَئِنْ كَفَرْتُمْ إنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: Dan ingatlah tatkala Tuhannu memaklumatkan, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim: 7)

Berdasarkan ayat ini, maka marilah kita mensyukuri seluruh nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu.


Sungguh pun pekerjaan bersyukur tampaknya hanyalah perbuatan yang mudah kita lakukan. Namun bersyukur juga memiliki konsekwensi karena bersyukur adalah berbuat. Jika kita mensyukuri umur maka kita mesti menggunakannya untuk beribadah kepada Allah. Dan jika kita mensyukuri harta tentu kita akan menggunakannya untuk bersedekah. Nah di sinilah kita akan mendapatkan ujian tentang rasa syukur.

Ketika kita menggunakan umur kita untuk beribadah kepada Allah, maka syetan dan hawa nafsu akan senantiasa menggoda dan membisikkan, bahwa banyak kemaksiatan yang siap digelar di luar sana. Bila kita ingin mendatangi masjid untuk berdzikir, maka syetan-syetan akan memperberat langkah kita. Mereka ingin membelokkan langkah kita menuju tempat-tempat lain di mana kemaksiatan sedang diumbar.

Sedangkan jika kita ingin bersedekah, tentu syetan dan hawa nafsu juga akan selalu menggoda kita, mereka membisikkan resiko-resiko yang tidak semestinya. Syetan-syetan akan mengatakan, “Ah buat apakah kamu bersedekah? Sedangkan masih banyak kebutuhan pribadimu yang belum terpenuhi.” Jika kita ingin mendermakan beberapa ratus ribu atau beberapa juta, maka hawa nafsu kita akan selalu mempengaruhi, “Jangan banyak-banyak deh, kalau ingin bersedekah, nanti kamu bisa jatuh miskin.”

Padahal tahukah kita, bahwa sedekah takkan mengurangkan harta sedikitpun. Karena Allah pasti akan menggantinya dengan berlipat ganda. Rasulullah SAW pun telah bersabda,
مَا نَقَصَ مَالُ مِنْ صَدَقَةٍ

Harta tidak berkurang karena bersedekah. (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan jaminan keamanan dari kefakiran kita oleh Allah SWT. Kita telah mendapatkan jaminan, takkan menjadi miskin karena bersedekah.

Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah menceritakan, "Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali dua Malaikat turun kepadanya, yang salah satunya berkata: Ya Allah, berilah orang yang berinfak gantinya. Dan yang lain berkata: Ya Allah, berilah orang yang kikir kerusakan." (HR. Bukhari-Muslim)

Kedua hadits ini mengindikasikan, Justru dengan bershadaqah, harta seseorang akan semakin bertambah, barakahnya maupun jumlah harta itu sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَمَا أنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْئٍ فَهُوَ يَخْلِفُهُ
Dan segala yang kamu nafkahkan, tentu akan digantikan oleh Allah SWT. (QS. Al-Hasyr : 39)

Maka dari itu saudara-saudaras ekalian, kita tidaklah perlu khawatir bahwa rasa syukur kita dan sedekah kita akan mendatangkan kesulitan bagi hidup kita. Kita tidak perlu khawatir bahwa syukur dan sedekah akan mengurangi kenikmatan kita. Dan marilah kita mensyukuri segala nikmat Allah dengan segenap daya untuk semakin mengaplikasikan ketakwaan yang sesungguhnya.


Bersyukur atas nikmat adalah bukti bagi lurusnya keimanan dalam jiwa manusia. Dan orang yang bersyukur kepada Allah akan selalu merasakan muroqobatullah (Kebersamaan Allah) dalam mendayagunakan kenikmatan-Nya, dengan tidak disertai pengingkaran, perasaan menang dan unggul atas makhluk lainnya, dan penyalahgunaan nikmat.

Mensyukuri nikmat dengan mengungkapkan rasa kesyukuran kepada Allah dapat kita lakasanakan sengan tiga hal : pertama adalah Mengakui di dalam bathin. Sedangkan yang kedua adalah Mengucapkannya dengan lisan dan yang ketiga adalah Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberi nikmat. Dan ketiga-tiganya ini harus kita laksanakan dengan sepenuhnya, kita tidak dapat bersyukur dengan sebenarnya jika hanya ucapan yang membuktikan itu.

Jika mengaku bersyukur atas kelebihan harta namun tidak pernah bersedekah, tentu syukur yang kita ucapkan adalah kebohongan belaka. Apalah lagi kita selalu menggerutu, namun mengaku penuh syukur. Sungguh hal tersebut hanyalah isapan jempol semata.

Tentu Allah dan Rasulullah takkan memerintahkan kepada kita untuk bersyukur, jika tida manfaatnya. Maka ketahuilah bahwa mensyukuri nikmat memiliki banyak sekali manfaat yang dapat dipetik oleh orang-orang beriman.

Beberapa di antara manfaat syukur adalah mensucikan jiwa. Dengan bersedekah kita mensucikan harta. Sedekah wajib berupa zakat dan sedekah sunnah di setiap saat. Harta dan kekayaan material kita menjadi tersucikan oleh sedekah. Dan kehidupan kita tersucikan oleh rasa syukur yang terkatakan dengan lisan dan terlaksana melalui perbuatan-perbuatan baik.

Syukur jura mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan kenikmatan secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuhkembangkan kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang disyukuri, adalah lebih berarti dibandingkan kenikmatan-kenikmatan yang disia-siakan.

Syukur juga menjadikan orang lain ridho dan senang kepada kita, Syukur menentramkan jiwa kita. Karena rasa syukur yang telah kita ungkapkan dalam perbuatan tentu menjadikan orang lain senang dan akan membantu dan menolong kita di waktu-waktu lainnya.

Tentu saja, rasa syukur dapat memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam sosial masyarakat, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindungi dengan aman.

Apabila mayoritas anggota suatu masyarakat adalah pribadi-pribadi yang bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah mereka dapatkan, tentu masyarakat akan aman tenteram dan beroleh kerahmatan dari Allah SWT. Dan baldatun toyyibatun wa robbun ghofuur tidak lagi menjadi mimpi semata. Amin Allahumma Amin

Sumber: nu.or.id

Sabtu, 10 Desember 2011

Jangan baca kalo g suka!!!

Ga penting memang menceritakan tentang diri
tapi ketika merasa diri ini sdh tak mampu berkata-kata lagi
 maka ingin kucurahkan semua isi hati pada tulisan ini
ketika kita merasa bahwa hidup kita dihargai
kadang kita merasa jadi orang yang dipentingkan
padahal jika kita renungkan....
apalah seorang diri kita
tanpa peran dari oranglain seperti orangtua, saudara, teman, guru, suami/istri. anak, keluarga dsb

tapi seringkali kita lupa
mereka adalah orang2 yang justru membuat kita dihargai dimata oranglain
tak pernah sepatahpun ucapan terimakasih kepada mereka
ucapan hormat dan terimakasih hanya dilontarkan kepada orang2 yang memberi tanda penghargaan kepada kita
ingat!!!!waktu bisa merubah keadaan
suatu saat....jika Dia menghendaki, penghargaan kepada diri kita bisa hilang
suatu saat ....kita pun akan merasakan suatu penghinaan
padahal kesalahan yang kita perbuat hanya sebuah kesalahan kecil
maka kita akan merasa sedih dan kecewa
 disaat itu biasanya kita akan mencari tempat curahan hati
kemana.................?
ga salah!!!!!! maka kepada orang2 yang telah membuat kita dihargai kita akan mencari perlindungan
kepada orangtua, saudara, teman, sahabat, guru, keluarga kita mencari perlindungan dan pembenaran atas kesalahan kita
kita minta dukungan mereka agar kita dihargai kembali, sementara kita telah lupa jasa2 mereka ketika kita dihargai
sekarang......mari kita merefleksi diri kita
jika kita ingin dihargai.....jangan lupakan orang2 yang melahirkan dan mendukung kita menjadi  dihargai
jangan membuat kesalahan kecil yg bisa membuat kita jadi terhina
ada yang BERHAK memberi dan mencabut segala sesuatu atas diri kita
maka kembalikanlah setiap keadaan kpd yang BERHAK atas diri kita
jangan merasa bangga dg pujian, karena kita akan kecewa dg penghinaan
jadikanlah pujian  sebagai cobaan yang hrs dijaga dan dipelihara
ketika kita dpt penghinaan jangan merasa kecil hati,
tapi syukurilah bahwa Alloh masih memberi kesempatan kepada kita utk memperbaiki diri
dan sadarilah bahwa segala sesuatu bukan milik kita, maka kembalikanlah setiap amanah yang melekat pada diri kepada DIA yang  Maha Memiliki

Sabtu, 03 Desember 2011

Empat nasihat Rasulullah kpd sahabatnya

Empat nasihat dari Rasulullah kepada sahabatnya. Keempat poin tersebut di antaranya:

1. Ketahuilah bahwa perkawinan itu ibadah. Untuk membangun sebuah kehidupan yang baru itu ibarat perjalanan panjang mengarungi samudera yang luas dan mengarungi pulau tujuan. Jadi, persiapkan kapalmu dengan baik karena engkau akan berlayar ke samudera yang tidak hanya berombak terang, tapi juga diterpa gelombang tinggi. Jagalah kemudimu agar lurus arahnya. Jagalah pula putri kami agar tenang hidupnya dan dia selalu merasa dicintai dan dilindungi karena Aliya akan mendampingimu dalam suka dan duka. Berlayar bersama menuju ridho Allah SWT.

2. Ketahuilah bahwa dalam perjalanan itu bawalah bekal, karena perjalanan akan panjang dan perbanyaklah amal shaleh. Dari lubuk ananda yang tersayang, hormatilah dan sayangi kedua orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik ananda karena ridho Allah adalah ridho orangtua. Sayangi pula seluruh keluarga yang telah menyatu dan telah jadi keluarga besar. Papa dan mama akan mengasihi ananda sebagai putra kandung sendiri.

3. Ketahuilah bahwa janganlah kamu membawa bekal berlebihan karena ia akan memberatkanmu. Bawalah secukupnya dan pandaiah berbagi sesama. Jadilah rahmat bagi semesta alam, hidup dalam bermasyarakat, bernegara, hendaknya taat dalam hukum dan etnik yang berlaku. Selalu menyayangi bersama, amanah, ulet, sabar bersyukur, dan ikhlas. Tetaplah tegar dan yakin dalam setiap cobaan agar tugas dan tanggung jawab dalam hidup ini berjalan lancar. Yakinlah ananda dalam tiap kesulitan selalu ada kemudahan.

4. Ketahuilah bahwa hidup akan tentram, hidup akan berguna, hidup akan tenang manakala ananda senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT. Pada Dia-lah kamu bersujud dan pada Dia-lah kamu bersandar. Jalankan perintah agama dan hindari larangannya. Jadilah pemimpin bagi keluargamu. Bangunlah keluarga sakinah, mawadah dan warahman, bersabar dalam setiap cobaan dan jadilah manusia utama yang berguna bagi keluarga, agama dan masyarakat, bangsa dan negara.

Jumat, 02 Desember 2011

terpedaya oleh kenikmatan dunia

Ini adalah sebuah kisah yang tak pantas untuk ditiru atau diteladani, sebuah kisah dari seorang pencari kenikmatan dunia..............

aku adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang sederhana
kedua orangtuaku adalah orang-orang yang taat menjalankan agama
sehingga aku dibesarkan dalam lingkungan yang sangat ketat dalam menjalankan perintah agama
dengan segala kesederhanaan.....hidup ku sangatlah pas pasan, tapi juga tidak kekurangan
aku dididik untuk bisa mengatur kebutuhan sendiri sejak kecil
sejak menyiapkan pakaian sendiri, makanan dan keperluan sekolah itu harus dilakukan sendiri jangan tergantung pada orang lain
 beranjak remaja............kehidupanku tidak berubah
hidup sederhana dan pas-pasan
sementara pergaulanku semakin luas........banyak teman dan lingkungan yang semakin berubah
alhamdulillah, aku termasuk orang yang senang bergaul dengan banyak orang, baik yang pandai, kurang pandai, yang kaya, yang sederhana, yang aktif , yang pendiam.....semua aku temani
sehingga aku cukup dikenal ditengah lingkunganku
hanya karena hidupku yang serba terbatas, maka banyak keinginanku yang tidak bisa dipenuhi saat remaja
seperti mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang memerlukan biaya besar tentu saja tidak dapat kuikuti karena tidak mungkin untuk meminta kepada orangtua
memasuki dunia sma, aku semakin bersemangat untuk mengikuti berbagai aktifitas
dengan latar pendidikan agama yag kuat, maka pada masa itu aku sudah bisa memberi les prifat ngaji kepada anak-anak orang kaya, dan alhamdulillah sejak saat itu keuanganku mulai membaik
aku bisa membiayai segala keperluanku sendiri, ditambah lagi selama di sma aku selalu rangking ke 1 di kelas sehingga mendapatkan bea siswa dari sekolah
memasuki dunia perkuliahan, aku diterima di sebuah perguruan tinggi negri favorit di kotaku
segala aktifitas kampus kuikuti, sehingga aku menjadi aktifis kampus yang banyak dikagumi banyak pria, karena selain kepandaian dan prestasiku yang menonjol, aku pun termasuk orang yang senang menata pakaian agar serasi dan sesuai dengan penampilanku (ini bukan memuji diri sendiri tapi berdasarkan pendapat orang lain yang disampaikan kepadaku).
aku termasuk seorang yang idealis, dalam memilih calon suami pun maka kriteria pria idaman seperti: tampan, kaya, pandai dan taat beragama pun menjadi harapanku
alhamdulillah,aku bertemu dengan pria semacam itu, seorang aktifis kampus juga yang lumayan cakep, berasal dari keluarga berada, ipk nya bagus dan taat menjalankan ibadah
jadilah aku berjodoh dengannya
tapi ternyata.....ketampanan,kekayaan, kepandaian dan ketaatan beragama tidak menjamin seseorang akan mendapatkan pekerjaan yang bagus
setelah menikah, aku tetap berambisi untuk menjadi seorang yang aktif
setiap pekerjaan yang memungkinkan bisa kujalani, aku mencobanya sehingga aku mampu bekerja dalam berbagai bidang: mengajar, marketing, bisnis, konsultan dan beberapa pekerjaan lain yang memang sangat senang untuk kulakukan
sementara suamiku ternyata seorang yang kurang strugle dalam bekerja, dia hanya cukup menggeluti satu bidang pekerjaan saja yaitu sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan swasta dengan gaji yang pas-pasan
aku ga  bisa memaksa suamiku untuk mencari pekerjaan lain karena dia sudah sangat menyenangi pekerjaannya di perusahaan itu
karena aku sangat senang menggeluti berbagai pekerjaan, tentunya penghasilanku jadi jauh lebih besar dari suamiku, hal ini menyebabkan suamiku agak minder dihadapanku,
tapi hal itu tidak menyebabkan kurangnya rasa hormatku kepadanya, aku tetap mencintainya sebagai pilihanku mendampingi hidup
tapi godaan dunia terus mengejarku, aku banyak berkenalan dengan berbagai kalangan terutama para pimpinan perusahaan
sampai suatu saat aku berkenalan dengan seorang marketing manajer dari sebuah perusahaan asing di negri ini, dia tertarik dengan berbagai pemikiranku dalam merancang suatu produk
berkali-kali dia mengajak kerjasama untuk menjalin suatu hubungan bisnis denganku
aku tertarik dengannya sampai akhirnya aku sering bertemu dengannya dan berlanjut dengan kencan-kencan yang bersifat pribadi
aku sadar bahwa hal itu ga pantas dilakukan oleh seorang perempuan yang bersuami
tapi karena sudah tertarik aku melakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku
sampai akhirnya.......aku melakukan perbuatan yang sangat dilarang oleh agama
penghianatanku kepada suami, kepada keluarga, kepada anak-anakku....
aku malu.........
ternyata aku bisa tergelincir hanya untuk mengejar kenikmatan dunia
Tuhan....pantaskah aku berada dihadapan Mu, setelah aku melakukan suatu perbuatan yang sangat hina
pantaskah aku untuk menyebut nama Mu setelah kesombonganku memperdayaiku
aku tak pantas untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba Mu, tapi aku pun takut akan pedihnya siksa api neraka Mu
Tuhan..........ampuni aku.........

Kamis, 01 Desember 2011

Masihkah Bahasa menunjukkan Karakter Bangsa

 



Miris sekali rasanya jika kita mendengar anak-anak sekarang berbicara dalam pergaulan mereka menggunakan sebutan-sebutan binatang. Mereka memanggil nama satu sama lain dengan nama binatang, lebih dari itu setiap selipan kata selalu disertai dengan kata-kata umpatan seperti : bego, goblog,edan, gila,dsb.
Pemakaian bahasa seperti itu mencerminkan pribadi mereka yang tidak memiliki nilai, etika dan harga diri. Mereka menilai diri mereka dan teman-teman mereka layaknya seperti binatang, bahkan lebih rendah dari itu.  Jika  dalam diri mereka sudah tidak ada harga diri, bagaimana mereka bisa mengangkat harkat dan derajat keluarga, masyarakat bahkan Negara.
Lihatlah, bagaimana berbagai gejolak yang sering terjadi di tengah masyarakat dewasa ini ? Kebrutalan, anarkhis, sadism dan bentuk-bentuk kebobrokan nilai kemanusiaan lainnya di pakai untuk menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi baik persolan yang bersifat pribadi sampai kepada masalah yang bersifat kebangsaan. Perilaku mereka tak jauh berbeda dengan perilaku binatang yang hidupnya tidak punya nilai dan aturan.
Akan lain halnya jika kita melihat kepada suatu  masyarakat dilingkungan tertentu yang berlaku pemakaian bahasa daerah dengan tata aturan yang ketat. Mereka bertutur dengan halus dan lembut, lalu bersikap dengan cara yang sopan dan santun, dan mereka memperlakukan penghormatan tertentu dalam menghadapi sesama manusia.
Tidak bermaksud untuk menolak “jaman kebebasan”, tetapi  jika dilihat secara seksama ternyata pemakaian bahasa daerah yang lebih dikenal dengan “Bahasa Ibu,. dapat membentuk perilaku yang lebih baik dibanding dengan penggunaan bahasa gaul .
Jika kita melihat kepada pepatah yang mengatakan “Bahasa menunjukan Bangsa”, akankah penggunaan bahasa gaul menunjukkan keadaan bangsa kita sekarang ini ?
Dalam rangka memperingati hari “Mother Language Day” yang dicanangkan oleh UNESCO pada tahun 1999, maka bagaimana kalau kita meninjau kembali dampak penggunaan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Pengunaan Bahasa Ibu sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai budaya daerah,adat istiadat,nilai, norma dan etika yang berlaku ditengah masyarakat. Bahkan Khaidar Al Wasilah salah seorang guru besar UPI menyebutkan bahwa Bahasa Ibu erat kaitannya dengan bahasa pendidikan dan agama.
Meninjau kepada banyaknya nilai-nilai yang terkandung dalam penggunaan Bahasa Ibu, baik dalam cara bertutur maupun penggunaan tidak ada salahnya bila bahasa ibu dapat dijadikan sarana untuk pembentukan karakter pribadi bangsa. Seorang anak yang dibesarkan dengan menggunakan bahasa ibu dirumahnya terlihat lebih santun dalam berbicara dan bersikap di banding dengan anak yang dibesarkan dengan menggunakan bahasa campuran (Bahasa Indonesia dan bahasa daerah). Hal ini dapat dibuktikan karena dalam bahasa ibu ada perbedaan penggunaan kata untuk anak. teman dan orang dewasa. Sehingga terasa sekali adanya penghormatan tertentu dalam memperlakukan seseorang. Sedangkan dalam bahasa Indonesia (tidak bermaksud merendahkan) penggunaan kata untuk tingkatan usia itu tidak ada perbedaan sehingga dalam menghadapi setiap orang itu sama.
Bahasa Ibu memberikan kepekaan berbahasa, artinya perbedaan bahasa halus dan kasar itu sangat terasa, Seseorang yang menggunakan bahasa ibu akan terlihat bagaimana ia menempatkan diri dalam berbicara dan berdampak pada perilaku. Dampak nilai yang tertanam dalam perilaku dapat membentuk karakter, karena dasar pembentukan karakter adalah kebiasaan-kebiasaan perilaku seseorang yang dipengaruhi oleh nilai, norma, adat istiadat dan budaya dimana seseorang itu berada.
 Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menegaskan, bahwa pembentukan karakter bangsa yang belakangan ini menjadi isu di kalangan pendidik perlu dikembalikan pada keragaman kultur kita. Tradisi lisan, kekayaan budaya—kita alami lebih dulu budaya omong dibanding budaya tulis—harus dilestarikan sebagai pengaya pendidikan karakter bangsa. Mengibaratkan anak sebelum 6 tahun yang memiliki 100 miliar sel otak merupakan potensi, bangsa ini juga demikian. Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang tidak saja perlu dilestarikan, tetapi juga dikembangkan, tulis mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Edi Sedyawati dalam makalahnya. Perlu dilakukan pendekatan multikultural agar diperoleh pemahaman komprehensif sehingga hasilnya bisa dipakai sebagai sumber belajar bagi pengembangan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, menjadi sumber bagi pembentukan karakter bangsa. Juwono Sudarsono melihat bahasa sebagai suatu proses pertama transformasi nilai-nilai karakter bangsa.  berharap dengan pengamalan budaya ini dapat menyaring persepsi dan pandangan-pandangan yang mengikis karakter.
Penggunaan bahasa ibu dapat pula membangkitkan rasa cinta kepada budaya sendiri, karena nilai-nilai budaya merupakan dasar pembentukan karakter. Kecintaan kepada budaya merupakan hal yang penting dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan. Kehidupan modern yang banyak dipengaruhi oleh budaya luar dapat mengilkis nilai-nilai budaya bangsa. Oleh sebab itu kecintaan terhadap budaya sendiri harus ditingkatkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa sehari-hari.