Minggu, 05 Februari 2012

Meneladani Rasululloh SAW dalam Profesi Guru

Nabi Muhammad SAW adalah seorang guru yang patut kita renungkan tentang keteladan beliau.  Seperti yang tercantum dalam QS. 33.ayat 21 : ”Sungguh terdapat keteladanan yang baik dalam diri Rasululloh SAW”. Rasulullah SAW adalah seorang Mahaguru yang patut diteladani oleh seluruh guru di muka bumi karena tugas yang pertama kali diembannya adalah menyuruh manusia untuk dapat ”membaca”. Membaca ini adalah hal yang sangat penting untuk pertama kali diajarkan kepada anak didik, karena dengan membaca seseorang dapat mengenali seluruh hal yang yang ada di muka bumi. Seperti kata pepatah bahwa ”membaca adalah jendela ilmu”, jadi tanpa membaca kita tidak akan tahu apa yang tejadi di dunia.
Sungguh sangat patut ditiru bahwa dalam melaksanakan tugasnya, Beliau selalu mensucikan dirinya baik suci lahir maupun batin, kesucian dalam melaksanakan tugas ini diperintahkan dalam QS. Al Mudatsir ayat 4 : ”Dan pakaianmu sucikan”. Sebagai seorang guru, Rasululloh SAW selalu tampak bersih dalam pakaian, Beliau orang yang sangat menjaga kesucian pakaian dari hal-hal yang najis. Muka Beliau sangat bersih bercahaya karena selalu terbilas oleh air wudhu. Kata-kata Beliau selalu terjaga dari perkataan yang kotor,sangat santun dan penuh dengan pujian dan doa.
GURU adalah orang yang patut digugu dan ditiru, perilaku yang patut digugu dan ditiru adalah perilaku yang mengandung keteladan. Seorang guru harus menjadi teladan bagi anak didiknya. Dalam Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  pasal 40 ayat 2 dikemukan bahwa guru sebagai pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban :
Pertama, Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan , kreatif, dinamis dan dialogis.
Kedua, Mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
Ketiga, Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya
Dalam memberi keteladan ini sudah sepatutnyalah seorang guru meniru keteladan Rasulullah SAW, karena akhlak Beliau adalah Quran dan Hadits, maka insya Alloh nilai-nilai pendidikan yang disampaikan kepada anak didik tidak akan terlepas dari tuntunan nilai-nilai Ilahiah. Nilai-nilai Ilahiah sangat fundamental dimiliki oleh anak didik, karena nilai-nilai inilah yang akan membentuk karakter dan pribadi bangsa di masa yang akan datang. Jadikanlah anak didik kita generasi pembangun bangsa yang berakhlak mulia seperti yang dicontohkan oleh Rasululloh SAW.
Dedi Supriadi (1982:2) mengungkapkan, guru merupakan sentral dari semua upaya kegiatan pendidikan dan agen dalam pembaharuan pendidikan. Belajar adalah suatu proses perubahan. Sebagai orang yang patut digugu dan ditiru maka guru harus memiliki sikap dan perilaku yang harus diteladani dan dapat memberikan perubahan sikap dan perilaku bagi anak didiknya. Keteladanan dalam proses pendidikan merupakan metode yang sangat tepat untuk menjadikan seseorang menjadi manusia yang berakhlak mulia. Keteladan adalah landasan utama untuk menjadi seorang guru yang professional.
Dewasa ini perubahan sikap dan perilaku harus menjadi sasaran utama pembaharuan pendidikan karena merosotnya nilai moral dan akhlak menyebabkan keterbelakangan bangsa ini menduduki posisi terendah di bidang pendidikan. Era globalisasi memberikan dampak yang sangat luas bagi pergaulan generasi muda, diantaranya dampak negatif dengan berkurangnya nilai-nilai etika dalam perilaku sosial dan masyarakat, pergaulan bebas, narkoba, geng motor, tawuran dan sebagainya menimbulkan keresahan yang sangat besar di tengah masyarakat, mengganggu ketentraman lingkungan.
Seorang guru professional menurut Uzer Usman adalah ; “Dia akan memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dalam intraksi belajar mengajar sehingga dengan kemampuannya baik dalam hal metode mengajar, gaya mengajar ataupun penyampaian materi pelajaraan bisa menyukseskan intraksi belajar mengajar atau pun proses belajar mengajar”
Seorang guru profesional, tidak hanya pandai mengajar dan menyampaikan informasi kepada anak didik, tapi yang terpenting adalah dia dapat menjadi panutan dan idola bagi anak didik, sehingga apa yang dilakukannya akan digugu dan ditiru oleh anak didik. Seseorang akan mudah meniru apa yang dilakukan oleh idolanya itu. Marilah kita menjadi guru yang professional yang diawali dengan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari sehingga apa yang kita lakukan dapat ditiru oleh anak didik kita. Semoga Alloh SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menjadi seorang guru professional yang ikhlas dan menjadikan pekerjaan kita sebagai ladang amal sholeh sebagai bekal untuk kehidupan kita di dunia dan akhirat, Amin ya Robbal alamin.
 

Kamis, 02 Februari 2012

MAU SUKSES?

"Bukan masalah besar yang mengirimi kita kerumah sakit jiwa, bukan hilangnya kekasih, melainkan hanya putusnya tali sepatu di saat kita mesti bergegas" (Charles Bukowski)
Ledakan emosi kadang-kadang bukan disebabkan oleh masalah-masalah yang besar, tetapi kadang berawal dr hal yang sepele atau kecil. Hal ini disebabkan oleh ketika kita sedang menghadapi masalah yang sepele kondisi kita dalam keadaan tidak stabil, sensitif dan emosional. Kondisi-kondisi ini berada dalam ranah internal kita yang tanpa disadari bisa keluar dalam bentuk ledakan-ledakan emosi yang tidak terkendali. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kondisi internal yang tidak stabil ini bisa disebabkan oleh rasa aman (self confidence) yang terganggu, tidak percaya diri atau citra diri dan konsep diri yang kurang baik (self image and self concept). Hal ini bisa disebabkan oleh lingkungan yang membuat keadaan demikian, misal ejekan dari teman, sering dimarahi orangtua, guru yang tidak memberi reward (dukungan) dsb. Untuk mengatasi masalah itu harus dibangun kesdaran diri untuk bangkit dengan meningkatkan efikasi diri yang kuat, yaitu harapan untuk sukses yang dilandasi dengan keyakinan diri yang kuat. Bagaimana caranya? Coba bercerminlah kepada diri sendiri, lihat kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Lalu atasi setiap kelemahan dengan upaya-upaya yang mendukung kepada kelebihan yang dimiliki. Maka setiap kelemahan sedikit demi sedikit akan tertutup oleh kelebihan-kelebihannya. Yang terpenting disini adalah kuatkan keyakinan dirinya akan keberhasilan yang dicapainya. Wallahu a'lam bissowab

Rabu, 01 Februari 2012

Bahagia dalam Cinta

... ARTI BAHAGIA BERSAMA YANG DICINTA ...

.

.

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ...Salah satu kebahagiaan adalah ketika melihat orang yang kita cintai bahagia. Kebahagiaan jenis ini levelnya lebih tinggi dari kebahagiaan yang bersifat individual. Boleh jadi, ini masuk dalam kategori kebahagiaan sosial.



 

Tidak gampang untuk memperoleh kebahagiaan jenis ini. Apalagi bagi mereka yang bersifat egois. Semua kebahagiaannya diukur dari kebahagiaan diri sendiri. Orang yang demikian adalah tipikal 'pemburu kebahagiaan', yang justru tidak pernah menemukan kebahagiaan...

 

Berumah tangga adalah sebuah cara untuk memperoleh kebahagiaan, dengan cara membahagiakan pasangan kita. Partner kita. Istri atau suami. Bisakah itu terjadi? Bisa, ketika berumah tangga dengan berbekal cinta. Bukan sekadar berburu cinta. Lho, memang apa bedanya?

 

Berbekal cinta, berarti kita mencintai pasangan kita. Ingin memberikan sesuatu kepada pasangan agar ia merasa bahagia. Sedangkan berburu cinta, berarti kita menginginkan untuk dicintai. Menginginkan sesuatu dari pasangan kita, sehingga kita merasa bahagia.

 

Menurut anda, manakah yang lebih baik? Mengejar cinta atau memberikan cinta? Mengejar kebahagiaan ataukah memberikan kebahagiaan? Mengejar kepuasan ataukah justru memberikan kepuasan? Mana yang bakal membahagiakan, yang pertama ataukah yang ke dua?

 

Ternyata, yang ke dua. Mengejar cinta hanya akan mendorong anda untuk berburu sesuatu yang semu belaka. Yang tidak pernah anda raih. Karena, keinginan adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi keserakahan.

 

Hari ini Anda merasa memperoleh cinta dari pasangan Anda, maka berikutnya anda akan merasa tidak puas. Dan ingin memperoleh yang lebih dari itu. Sudah memperoleh lagi, berikutnya anda akan ingin lebih lagi.

 

Ini hampir tak ada bedanya dengan ingin mengejar kesenangan dengan cara memiliki mobil atau rumah. Ketika kita masih miskin, kita mengira akan senang memiliki mobil berharga puluhan juta rupiah. Kita berusaha mengejarnya. Lantas memperolehnya. Dan kita memang senang.

 

Tapi, tak berapa lama kemudian, kita menginginkan untuk memiliki mobil yang berharga ratusan juta rupiah. Mobil yang telah kita miliki itu tidak lagi menyenangkan, atau apalagi membahagiakan.

 

Benak kita terus menerus terisi oleh bayangan betapa senangnya memiliki mobil berharga ratusan juta rupiah. Jika kemudian kita bisa memenuhi keinginan itu, kita pun merasa senang. Tetapi, ternyata itu tidak lama. Benak kita bakal segera terisi oleh bayangan-bayangan, betapa senangnya memiliki mobil yang berharga miliaran rupiah. Begitulah seterusnya. Coba rasakan hal ini dalam kehidupan anda, maka anda akan merasakan dan membenarkannya.

 

Kesenangan dan kebahagiaan itu bukan anda peroleh dengan cara mengejarnya, melainkan dengan cara merasakan apa yang sudah anda miliki. Dan jika anda mensyukurinya, maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya pada perubahan yang datang berikutnya.

 

Anda tak perlu mengejar kebahagiaan, karena anda sudah menggenggamnya. Yang perlu anda lakukan sebenarnya adalah memberikan perhatian kepada apa yang sudah anda miliki. Bukan melihat dan mengejar sesuatu yang belum anda punyai. Semakin anda memberikan perhatian kepada apa yang telah anda miliki, maka semakin terasa nikmatnya memiliki. Jadi, kuncinya bukan mengejar, melainkan memberi.

 

Demikian pula dalam berumah tangga. Jika kita ingin memperoleh kebahagiaan, caranya bukan dengan mengejar kebahagiaan itu. Melainkan dengan memberikan kebahagiaan kepada pasangan kita. Bukan mengejar cinta, melainkan memberikan cinta. Bukan mengejar kepuasan, melainkan memberikan kepuasan.

 

Maka anda bakal memperoleh kebahagiaan itu dari dua arah. Yang pertama, anda akan memperolehnya dari pasangan anda. Karena merasa dibahagiakan, ia akan membalas memberikan kebahagiaan.

 

Yang ke dua, kebahagiaan itu bakal muncul dari dalam diri anda sendiri. Ketika kita berhasil memberikan kepuasan kepada pasangan kita, maka kita bakal merasa puas. Ketika berhasil memberikan kesenangan kepada partner kita, maka kita pun merasa senang. Dan ketika kita berhasil memberikan kebahagiaan kepada istri atau suami kita, maka kita pun merasa bahagia.

 

Ini, nikmatnya bukan main. Jumlah dan kualitasnya terserah anda. Ingin lebih bahagia, maka bahagiakanlah pasangan anda. Ingin lebih senang, maka senangkanlah pasangan anda lebih banyak lagi. Dan, anda ingin lebih puas? Maka puaskanlah pasangan anda dengan kepuasan yang lebih banyak. Anda pun bakal merasa semakin puas. Terserah anda, minta kesenangan, kepuasan, atau pun kebahagiaan sebesar apa. Karena kuncinya ada di tangan anda sendiri. Semakin banyak memberi semakin nikmat rasanya.

 

Anda yang terbiasa egois dan mengukur kebahagiaan dari kesenangan pribadi, akan perlu waktu untuk menyelami dan merenungkan kalimat-kalimat di atas.

 

Contoh yang lebih konkret adalah perkawinan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Perkawinan semacam ini sungguh membuat menderita pihak yang tidak mencintai. Padahal ia dicintai. Segala kebutuhannya dipenuhi oleh pasangannya. Katakanlah ia pihak wanita.

 

Segala kebutuhan sang wanita selalu dipenuhi oleh suaminya. Rumah ada. Mobil tersedia. Pakaian, perhiasan, dan segala kebutuhan semuanya tercukupi. Tetapi ia tidak pernah merasa bahagia. Kenapa? Karena tidak ada cinta di hatinya.

 

Sebaliknya, sang suami merasa bahagia, karena ia mencintai istrinya. Ia merasa senang dan puas ketika bisa membelikan rumah. Ia juga merasa senang dan puas ketika bisa membelikan mobil.

 

Dan ia senang serta puas ketika bisa memenuhi segala kebutuhan istri yang dicintainya itu. Semakin cinta ia, dan semakin banyak ia memberikan kepada istrinya, maka semakin bahagialah sang suami. Kalau ia benar-benar cinta kepada istrinya, maka ukuran kebahagiaannya berada pada kebahagiaan si istri. Jika istrinya bahagia, ia pun merasa bahagia. Jika istrinya menderita, maka ia pun merasa menderita.

 

Akan berbeda halnya, jika si suami tidak mencintai istri. Ia sekadar menuntut istrinya agar mencintainya. Memberikan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan kepadanya. Ketika semua itu tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia bakal selalu merasa tidak bahagia. Tidak terpuaskan.

 

Sebaliknya, jika istri tersebut kemudian bisa mencintai suaminya - karena kebaikan yang diberikan terus menerus kepadanya - maka si istri itu justru bakal bisa memperoleh kebahagiaan karenanya.

 

Pelayanan yang tadinya dilakukan dengan terpaksa terhadap suaminya, kini berganti dengan rasa ikhlas dan cinta. Tiba-tiba saja dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terkira.

 

Kalau dulu ia memasakkan suami dengan rasa enggan dan terpaksa, misalnya, kini ia melakukan dengan senang hati dan berbunga-bunga. Kalau dulu ia merasa tersiksa ketika melayani suami di tempat tidur, kini ia merasakan cinta yang membara.

 

Ya, tiba-tiba saja semuanya jadi terasa berbeda. Penuh nikmat dan bahagia. Padahal seluruh aktivitas yang dia lakukan sama saja. Apakah yang membedakannya? Rasa cinta!

 

Ketika ‘berbekal cinta’, semakin banyak ia memberi, semakin banyak pula rasa bahagia yang diperolehnya. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa yang bahagia itu sebenarnya bukanlah orang yang dicintai, melainkan orang yang mencintai. Orang yang sedang jatuh cinta...

 

Karena itu keliru kalau kita ingin dicintai. Yang harus kita lakukan adalah mencintai pasangan. Semakin besar cinta kita kepadanya, semakin bahagia pula kita karenanya. Dan yang ke dua, semakin banyak kita memberi untuk kebahagiaan dia, maka semakin bahagialah kita...

 

Begitulah mestinya rumah tangga kita. Bukan saling menuntut untuk dibahagiakan, melainkan saling memberi untuk membahagiakan. Karena di situlah kunci kebahagiaan yang sebenar-benarnya memberikan kebahagiaan...

 

~ o ~

 

Sabtu, 28 Januari 2012

Kemesraan yang Diimpikan

"Sesungguhnya dibalik kebesaran Aisyah, ada suami yang dengan sabar mendidiknya. Di balik kemesraan-kemesraannya, ada kelembutan suami yang senantiasa memahaminya. Tanpa itu......kemesraan tinggalah impian"
Jika kita bertanya tentang pendamping hidup yang sempurna, seakan-akan kulihat Aisyah rh. Dialah istri Nabi SAW yang banyak menimbulkan takjub pada hati yang merindukan kemesraan. Dia pula istri Nabi yang kecerdasannya membuat para malaikat berdatangan kepadanya untuk belajar. Bila orang membicarakannya, kita selalu teringat akan peristiwa bagaimana ia berkejar-kejaran mesra dengan suaminya, Muhammad SAW. Bila orang mendengar julukannya, Humaira (orang yang pipinya merah) terbayang rumah tangga yang romantis menggemaskan.
Kisah kemesraan Aisyah membangkitkan kerinduan kita kepada rumahtangga yang penuh cinta. Orang yang baru menikah /apalagi yang belum akan segera diliputi impian tentang istri yang manja dan menggemaskan. Bayang-bayang tentang suasana romantis itu sayangnya tidak diimbangi dengan membayangkan kecemburuannya yang sangat besar. Sehingga di saat kita bermimpi tentang perkawinan yang penuh canda, istri kita menelungkupkan wajah karena duka, sementara dada suami penuh gejolak amarah. Sebabnya sederhana, kita siap dengan romantisnya tetapi tidak siap dengan rasa cemburu dan kecurigaannya (meski kadang tidak mendasar).
Terkadang, yang menyebabkan kita merasa kecewa bukanlah karena pasangan kita yang menjengkelkan, melainkan harapan yang tidak berimbang. Suami berharap mendapat istri seperti Aisyah, tetapi tidak siap dengan cemburunya yang begitu besar. Kita berharap mempunyai istri yang sangat cerdas, tetapi suami tidak siap membimbingnya.
Sesungguhnya di balik kebesaran Aisyah, ada suami yang dengan sabar mendidiknya. Di balik kemesraan-kemesraannya ada suami yang lembut dan berusaha memahaminya.

Selasa, 03 Januari 2012

YAKIN TERHADAP DIRI SENDIRI, WHY NOT?


 When you believe in a thing, believe in it all the way, implicitly and unquestionable." 
Walt Disney
Ketakutan dan Keyakinan merupakan dua hal yang senantiasa menghiasi perjalanan kehidupan setiap insan di muka bumi ini. Dua hal yang sama-sama memiliki sinergi kekuatan yang besar. Hukum keduanya bahkan saling tarik menarik. Nah, proses tarik menarik keduanya inilah yang menimbulkan suatu perasaan dalam jiwa kita yang disebut kebimbangan.
Ketakutan - Keyakinan - Kebimbangan. Mungkin Anda akan bertanya-tanya, kenapa semuanya memakai kata depan Ke, yang berarti sifat aktif. Sifat aktif berarti si manusianya sendirilah yang menentukan dan berperan besar dalam ketiga hal tersebut.
Ketakutan misalnya, muncul dan akan terus berkembang jika kita memeliharanya dan memberikan ruang kepada “ketakutan” tersebut untuk terus memiliki pengaruh negatifnya pada diri kita.

Kebalikannya sekarang. Keyakinan, akan memiliki porsi luar biasa dasyat dalam kehidupan kita jika kita terus mengelolanya dengan baik. Hiduplah terus dalam dinamisnya kekuatan “keyakinan” yang akan menuntun diri kita pada kekuatan luar biasa alam semesta yang menghadirkan peranan YANG ESA dalam setiap langkah yang kita ambil. Lalu, ada “kebimbangan” yang akan terus menghantui atau mengikuti kemanapun kita melangkah.

Kenapa? ya karena kita sendiri yang terus-terusan menempatkannya dalam jajaran kehidupan kita. Antara ketakutan dan keyakinan yang terus saling tarik menarik dengan kuat. Dan, Anda sendirilah yang berhak dan mempunyai kuasa untuk melepaskannya.

Keyakinan ialah kepercayaan yang tidak berbelah bagi. Keyakinan diri pula ialah kepercayaan bahawa dirinya boleh mengendalikan kehidupannya dengan baik serta segala cabaran yang dihadapi dengan jayanya
Kebolehan anda mengatasi segala halangan dalam hidup untuk mencapai kejayaan, banyak dipengaruhi oleh keyakinan diri anda. Ini bermakna lebih yakin anda terhadap diri anda serta masa hadapan anda, lebih terbukalah kejayaan untuk anda.
 “Jika Anda yakin bahwa Anda bisa, Anda pasti bisa!” Itulah salah satu statement terkenal dari seorang penulis buku laris, Dr. Denis Waitley. Namun, kebanyakan manusia yang ragu-ragu dan tidak berani mencoba bersumber dari kurangnya rasa percaya diri dalam diri mereka. Karenanya, kita tidak berpikir bahwa kita mampu melakukannya, dan tragisnya kita tidak pernah berani mencoba. Bahkan saking takutnya kita sudah meyakini bahwa apa yang akan kita lakukan pasti gagal. Orang seperti ini, bukan hanya gagal 100 persen, tetapi gagal 110% karena sebelum mencoba sudah mengatakan tidak bisa.
Menurut Darmadi Dharmawangsa, untuk mengatasi ketakutan tersebut, kuncinya adalah jujur pada diri sendiri. Jujurlah terhadap segala potensi besar yang terkandung dalam diri Anda. Lalu jalanilah kehidupan Anda secara konsisten dengan nilai tertinggi dan potensi terbesar Anda tersebut. Niscaya realitas hidup akan mengarah pada keyakinan Anda. Sebab Anda bakal berperilaku, bertingkah laku, dan berbicara sesuai dengan apa yang paling Anda yakini.
Ingatlah, 80% keberhasilan manusia ditentukan oleh apa yang dipikirkan dan sikapnya sehari-hari. Hanya dengan keyakinan positif, Anda mampu melakukan sesuatu hal yang bagi orang lain tidak mungkin dilakukan. Dan inilah faktor utama untuk menggapai kesuksesan Anda.