Rabu, 25 Juli 2012

HAKIKAT LAILATUL QODAR


Satu malam lebih baik daripada 1000 bulan lamanya, sungguh sangat menakjubkan bukan!
Malam yang sangat mulia, yang diberikan oleh Allah kepada umatnya Muhammad Rasulullah Saw,
Tapi pernahkan kita tahu apakah hakikat lailatul qodar itu?
Bagaimana ciri-ciri orang yang mendapatkan lailatul qodar itu?
Lail yang berarti malam atau sepi, dimana seorang hamba bisa menyepikan hatinya, mensunyikan hatinya dari pengaruh-pengaruh makhluk sehingga hatinya benar-benar bersih hanya memandang Sang Pencipta, maka saat itulah hakikatnya lailatul qodar. Karena dia lebur kedalam kemuliaanNYA.
Dan ciri orang yang telah mendapatkan lailatul qodar yang nampak jelas adalah perubahan sikapnya, dari tinggi hati menjadi rendah hati, dari sombong menjadi tawadhu, dari mulia menjadi merasa hina, sehingga Si Hamba yang mendapat lailatul qodar itu seketika hilang penyakit kesombongan maupun penyakit keAKUan, yang jelas perubahan hati yang nampak pada sikap lahiriah.
Renungkan wahai saudaraku!
Sudahkah kita demikian atau setelah Ramadhan malah merasa lebih suci, mulia dan lebih baik?
Pada malam 10 terakhir dibulan Ramadhan, banyak umat berbondong-bondong, beriktikaf dimasjid-masjid untuk mendapatkan lailatul qodar itu, tapi sayang masjid yang ada di rohani dibiarkan najis dan banyak dihuni patung-patung dunia, bahkan anjing-anjing yang najispun berada didalamnya, sehingga tidak mungkin Malaikat akan turun sesuai dengan janji Allah bahwa para Malaikat turun sampai fajar dengan membawa keselamatan, kemuliaan, dan doa.
Sebagai sabda Rasulullah SAW :
“Qolbun mukmin baitul haq”
“Hati (jiwanya) orang mukmin adalah rumah Tuhan”
Ingatlah sesungguhnya yang menerima lailatul qodar itu hakikatnya bukan jasad, akan tetapi rohani (jiwa) atau hati.
Walaupun tiap malam kita iktikaf di dalam masjid dengan khusyu’ dan tekunnya, jika masjid yang ada di dalam jiwa ini masih kotor, banyak patung dan anjing-anjing rohani, maka para malaikat tidak akan turun kedalam hati seorang hamba yang masih kotor, penuh keAKUan, kesombongan, dan kebanggaan, sehingga tidak pernah merasa rendah, dosa, dan hina. (karena itu adalah sifat sejati sebagai Hamba)
Andaikan saat itu surga, lailatul qodar, pahala, nampak di pelupuk mata, orang yang mendapatkan karunia lailatul qodar tetap bersimpuh dihadapan Allah, tidak bergeming dan terpengaruh dengan apapun jua.
Karena hakikat lailatul qodar itu sendiri adalah leburnya jiwa kehambaan kedalam samudera ke EsaanNYA, sehingga wajarlah kalau Malaikat turun mengucapkan “SALAMUN HIYA HATTA MATH LAIL FAJR”.
Ingatlah: Tujuan hamba hanya mengabdi kepada TuhanNya dengan murni dan penuh keikhlasan.
Banyak diantara kita, terjebak dengan iming-iming itu semua, termasuk Al Fakir sendiri,
Ingatlah: Allah tidak akan pernah mengingkari janjinya, kemuliaan akan diberikan kepada hamba yang tulus, karena Allah akan cemburu apabila melihat hambanNya berpaling kepadaNya, seperti orang yang kau cintai ketika berpaling denganmu, pasti engkau akan cemburu ketika orang yang kau cintai mencintai orang lain.
Maka temukan DIA, pasti semua kemuliaan akan diberikan kepadamu.
buka hatimu dengan alat kerendahan jiwamu,
buka hatimu dengan air mata kerendahan di hadapan Tuhan,
buka hatimu dengan dosa-dosa yang pernah kau lakukan sehingga kau merasa kecil dihadapanNYA,
Sebab tidak akan seorang mendapatkan lailatul qodar ketika hati belum terbuka,
walaupun sebulan penuh kita iktikaf dan beribadah didalam masjid, jika hati tidak terbuka, kita tidak akan mendapatkan lailatul qodar itu,
Ketika mata hati ini kita buka dengan perasaan hina,
Ketika mata hati ini kita buka dengan perasaan dholim, dan
Ketika hati ini kita buka dengan air mata kerendahan dihadapan Tuhan,
Maka terbukalah hati,
Dan ketika hati terbuka, saat itu turunlah para Malaikat ke dalam jiwa (hati) ini,
Karena hati yang ingat kepada Allah akan di datangi oleh para Malaikat dengan mengucapkan “Selamat”.
Ingatlah, ketika lailatul qodar para Malaikat turun nilainya lebih baik daripda 1000 bulan,
Tapi bagaimana jika Allah Sang Pencipta itu sendiri memberi karunia sehingga Si Hamba diperkenankan bersimpuh dihadapanNYA? Mungkin dan pasti lebih dasyat, satu saat bersama Sang Pencipta lebih baik dari 1 juta tahun bahkan lebih daripada itu semua.
Renungkanlah wahai saudaraku…!
Bagaimana dengan keadaan kita???
Selamat dan berbahagialah wahai jiwa yang menemukan hakikat lailatul qodar itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar