Rabu, 23 November 2011

PERJALANANKU

tak terasa......
Hanya berupa hitungan hari......
tapi banyak kisah yg kualami dlm perjalanan hati kali ini
Penuh makna, penuh goresan, penuh cerita, penuh canda, penuh kecewa....
Haru, sedih, ceria, bahagia, tawa dan seribu rasa .......
Kedewasaan......kadang kekanakan
kadang air mata pun menetes, entah krn bahagia ataukrn sedih
Sebuah perjalanan singkat yg mungkin akan menjadi sebuah kisah yg tak pernah berhenti terungkap lewat kata2
walau kadang ada sebuah kata jenuh dan tak tahu hrs berbuat apa
tapi sesaat pun kembali hilang
berganti dg cerita lain yg lebih seru
Perjalanan yg tanpa lelah
bagai mendaki bukit yg datar
menuju puncak tapi tdk melelahkan
dijalani.........dinikmati...........
dirasakan...........................
bagai sebuah anugrah yg tak terbilang nikmatnya
Rabb........................................
terimakasih atas kekuatan yg Kau beri dlm perjalananku kali ini
semoga  ini menjadi kisah yg semakin menambah kedekatanku pada Mu
semakin menambah kecintaanku pada Mu
semakin merasa aku membutuhkan Mu
· · · Bagikan · Hap

Selasa, 22 November 2011

Cooling down dulu

mari kita berhenti sejenak

oleh 'Lusiyana Lulu' pada 22 November 2011 jam 9:32
(Ust.M.Anis Matta)
Mari kita berhenti sejenak di sini! Kita sudah relatif jauh berjalan bersama dalam kereta dakwah. Banyak sudah yang kita lihat dan yang kita raih. Tapi, banyak juga yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat laju kereta,goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa,suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu di gerbong kereta ini,dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret,juga bnyak kursi kosong dalam kereta dakwah ini yang semestinya bisa ditempati oleh penumpang-penumpang baru tapi tidak sempat kita muat. Dan masih banyak lagi!
Jadi,mari kita berhenti sejenak di sini! Kita memerlukan saat-saat itu; saat dimana kita melepas kepenatan yang mengurangi ketajaman hati,saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual,saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul yang mungkin menguras stamina kita. Kita memerlukan saat-saat seperti itu karena kita perlu membuk kembali peta perjalanan dakwah kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang harus kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita yang telah berubah.
Sesungguhnya,bukan hanya kita,para dai,yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun punya kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnyapenghentian. Tapi,sahabat-sahabat Rasulullah SAW.–generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan karenanya berhak meletakkan kaidah-kaidah dakwah—menyebutnya majlis iman. Maka,Ibnu Mas`ud berkata,”Duduklah bersama kami,biar kita beriman sejenak.”
Majlis Iman kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama,untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin kita capai dari upaya ini adalah memperbaharui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah,peluang yang disediakan lingkungan eksternal,dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua,untuk mengisi ulang hati kita dengan energy baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT. bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu;bahwa kita akan tetap setia memikul beban amanat dakwah ini;bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan;bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridhaNya. Hari-hari panjang yang kita lalui bersama dakwah ini menguras seluruh energy jiwa yang kita miliki,maka majlis iman adalah tempat kita berhenti sejenak untuk mengisi hati dengan energi yang tercipta dari kesadaran baru,semangat baru,tekad baru,harapan baru,dan keberanian baru.
Karena itu,majlis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudah semakin jauh. Pertama,karena tahap demi tahap dari keseluruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategi dakwah perlahan-lahan kita lalui. Mulai dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan junud dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayaannya kembali,kemudian melakukan mobilisasi social untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit,sampai akhirnya kita membentuk partai sebagai wadah untuk merepresentasikan dakwah di bidang institusi.
Kedua,karena kita hidup di sebuah masa dengan karakter tidak stabil. Perubahan-perubahan besar di lingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan,apa yang dituntut dari kita,kaum dai,adalah melakukan pengadaptasian,penyelarasan,penyeimbangan,dan­­–pada waktu yang sama—meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum. Ketiga,karena kita mengalami seleksi dari Allah SWT. secara kontinu sehingga banyak duat yang berguguran,juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.
Semua itu membutuhkan perenungan yang dalam. Maka,dalam majlis imanini,kita mengukuhkan sebuah wacana bagi proses pencerahan pikiran,penguatan kesadaran,penjernihan jiwa,pembaruan niat dan semangat jihad. Dan inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini.
Tradisi penghentian atau majlis iman semacama ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan;individu dan jamaah. Pada tingkatan individu,tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi,menghayati,dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif,matang,dan actual disamping kebiasaan muhasabah,memperbaharui niat,menguatkan kesadaran dan motivasi,serta memelihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam majlis iman untuk kita bagi kepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif,semangat individu menyatu dalam semangat kolektif,dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakekat kekhusyukan yang disebutkan Alquran,maka inilah salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis,penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam. Maka,Allah SWT mengatakan,”Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukkan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang Rasul) telah jauh,maka hati-hati mereka menjadi keras,dan banyak dari mereka yang menjadi fasik.” (QS.Alhadid:16)
Beginilah akhirnya kita memahami mengapa Rasulullah saw.menyunahkan umatnya melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan;atau mengapa Allah SWT menanamkan kegemaran berkhalwat pada diri Rasulullah SAW tiga tahun sebelum diangkat menjadi Rasul;atau bahkan mengapa Umar bin Khattab mempunyai kebiasaan itikaf di Masjidil Haram sekali sepekan di masa jahiliyah. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana yanv melahirkan gagasan-gagasan besar atau tempat merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka ,kata Ali bin Abi Thalib,adalah zikir,dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita sehingga diam kita berubah menjadi imajinasi yang liar; ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka,dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan;pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian,kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan,dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.

Senin, 14 November 2011

Ketika Cinta Bertasbih


Hati adalah tempat rasa terpendam

Ketika rasa berada dalam sebuah harapan
ingin diberi dan ingin memberi
maka........................
Ada sebuah harapan yang hanya Dia yang layak ada
Cinta..........
adalah harapan yang pantas Dia berikan
kepada hamba yang pula Mencintai
tapi Dia tidak pernah memilih....
kepada siapa Cinta Nya layak diberikan
Dia Yang Maha Rahman dan Maha Rahim
Dia berikan CINTA NYA kepada semua hamba yang Dia kehendaki
Subhanalloh Ya Robb,
Rahman dan Rahim begitu luas.......
Tak layak untuk ditanya.....
dan tak layak untuk dipertanyakan
SUBHANALLOH

NLP: Menyelaraskan Pola Pikir dengan Budaya Sekolah



            NLP adalah singkatan dari Neuro Linguistic Programing. Kata “neuro” merujuk pada system saraf kita, jalur mental bagi pancaindra agar  bisa mendengar, melihat, mengecap, membaui dan merasa. Kata “linguistic” merujuk pada kemampuan menggunakan bahasa dan bagaimana kata-kata atau frase spesifik yang mencerminkan jagad mental manusia, dapat berupa bahasa verbal dan bahasa non verbal seperti sikap tubuh, isyarat, gaya hidup yang mencerminkan gaya pikiran, keyakinan dan cara pandang. Sedangkan “programming” dipinjam dari ilmu computer untuk mensinyalkan bahwa pikiran, perasaan dan tindakan manusia adalah program-program kebiasaan yang bisa diubah dengan meng-upgrade- perangkat lunak –mental manusia. Dengan demikian, NLP bisa mengubah pikiran, perasaan dan perilaku lalu menambahkan pikiran, perasaan dan perilaku baru yang lebih produktif dan lebih sistematis dari biasanya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup.
            Dengan NLP, kita bisa lebih banyak menghadirkan perilaku positif dan succesfull  dalam kehidupan melalui tiga konsep sederhana, yaitu : Pertama, buatlah apa yang ingin dilakukan dan dipikirkan dengan bahasa dan pernyataan yang positif. Kedua, tingkatkan kejelasan mental atas apa yang diinginkan dalam upaya meningkatkan daya tariknya kepada kita. Ketiga, asosiasikan sikap-sikap succesfull ini dan tanamkan secara mental ke dalam otak kita sehingga semua itu menjadi sangat natural bagi diri kita. Contohnya, jika orangtua atau guru membuat aturan kepada anak dengan segala bentuk kelakuan yang tidak boleh dilakukan, tanpa sadar hal itu telah membawa perhatian kepada sesuatu yang tidak ingin dilakukan oleh yang membuat aturan, artinya semakin menarik perhatian anak untuk mengetahui mengapa hal itu tidak boleh dilakukan, dengan demikian anak justru malah semakin ingin mencoba untuk melakukan tindakan yang dilarang. Seperti larangan untuk “Jangan ribut di kelas”, hal itu mengundang perhatian anak untuk membuat keributan, tapi jika digunakan kata “Diam itu adalah emas” akan mengundang reaksi anak untuk melakukan “tindakan diam” karena ingin dihargai seperti emas
            Dengan banyak menghadirkan perilaku yang positif, maka diharapkan ada perubahan yang signifikan dalam meningkatnya produktifitas dalam kehidupan baik dalam lingkungan pribadi maupun lingkungan social. Di lingkungan sekolah , perilaku yang positif diharapkan dapat meningkatkan produktifitas kerja bagi para guru dan meningkatkan sikap mental positif bagi peserta didik. Dalam hal ini, tidak ada tidak ada lagi bentuk larangan atau kata-kata yang mengandung sifat negative, tetapi segala sesuatunya dibentuk dengan kata-kata yang mengandung support atau dorongan yang menambah semangat kerja dan meningkatkan prestasi dalam belajar.
            Berkaitan dengan budaya sekolah, NLP diharapkan dapat memberi manfaat   bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah :  (1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. Selain itu NLP sangat menunjang kepada Budaya Sekolah dengan berpegang teguh pada asas-asas budaya sekolah yang meliputi :
1.     1. Kerjasama tim (team work). Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Untuk itu, nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah.
  1. Kemampuan. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Dalam lingkungan pembelajaran, kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik.
  2. Keinginan. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah, guru, dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat.
  3. Kegembiraan (happiness). Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas, nyaman, bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah, nyaman, asri dan menyenangkan, seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya.
  4. Hormat (respect). Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui, bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya.
  5. Jujur (honesty). Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah, baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Tanpa kejujuran, kepercayaan tidak akan diperoleh. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Jujur dalam memberikan penilaian, jujur dalam mengelola keuangan, jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik.
  6. Disiplin (discipline). Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut, tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah, guru dan staf.
  7. Empati (empathy). Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami.
  8. Pengetahuan dan Kesopanan. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Dimensi ini menuntut para guru, staf dan kepala sekolah tarmpil, profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua dan masyarakat.
Refleksi : Dengan NLP diharapkan dapat  meningkatkan produktifitas dan kualitas Budaya Sekolah